Bagi tentara Israel, seluruh rakyat Palestina adalah sasaran. Mereka tidak peduli apakah orang-orang yang mereka temui itu anak-anak, perempuan, atau orang berusia lanjut. Anak - anak Palestina kadangkala menghadapi peluru Israel di tempat-tempat pemeriksaan,ketika bermain,ketika dalam pelukan ibunya atau hanya sewaktu berdiri di pojok jalan atau tidur di atas ranjang.
Sababul Wurud :
Diriwayatkan di dalam “Muslim” dari Abu Hasan bahwa ia telah bertanya kepada Abu HUrairah: “Dua Putraku telah meninggal dunia, kata-kata apa yang engkau terima dari Rasulullah yang bisa menghibur hati kami?” Jawabnya: “Ya, beliau bersabda,
“Anak-anak kecilmu –pada riwayat yagn lain- anak-anak kecil mereka – (menjadi) kunang-kunang di dalam surga, seorang diantara mereka menemui ayahnya, memegangi bajunya tidak berhenti sampai Allah memasukkan dia dan ayahnya ke dalam surga.” Perawi: Imam Ahmad, Bukhari di dalam Al Adabul MUfrad, Imam Muslim di dalah Shahihnya dari Abu Hurairah.
"Barangsiapa diamanati Allah seorang putri, bila mati tidak ditangisi, dan bila hidup di didik secara baik, maka dia dapat jaminan surga"
(HR. Abu Dawud, Hakim dari Ibnu Abbas)
Anak-anak kecil yang meninggal karena menjadi korban pembantaian tentara zionist Israel, wajah nya terlihat seperti terbuai dalam tidur dengan mimpi-mimpi indah dan damainya , saat mereka kembali menghadap ke pangkuan sang penciptanya ...
Tidak ada gurat wajah kepedihan lagi, yang sebelumnya terlihat ketika mereka masih hidup di bawah bayang-bayang penindasan zionist ...
Sepertinya tak ada satupun bangsa di dunia yang lebih sering melihat peperangan daripada Palestina. Betapa tidak, sejak abad pertengahan hingga saat ini tanah para mujahid tidak pernah sepi dari peperangan.
Ghassan Kanafani menulis buku berjudul Palestines Children (Kisah Perjuangan Hidup Anak-Anak Palestina) dengan cara sangat respresentatif untuk menggambarkan situasi peperangan. Berbekal pergumulan hidup, saat menjadi guru di beberapa kamp pengungsian selama perang Israel-Palestina berkecamuk, Kafani mencoba menceritakan kepiluan, duka, miris, dan besarnya perjuangan hidup anak-anak Palestina.
Berbagai kisah yang disuguhkan dalam buku setebal 299 halaman ini sungguh luar biasa. Kecamuk perang Israel-Palestina telah membuat bumi Palestina luluh lantak. Berbagai kota menjadi lumpuh, banyak anak menjadi yatim dan perempuan menjadi janda. Tetapi, semua itu tidak membuat para bocah Palestina menjadi patah semangat.
Dengan bernas dan lincah, Kanafani menceritakan, meski di tengah ancaman perang yang berkecamuk dan dentuman bom yang menakutkan, semangat anak-anak Palestina untuk memperjuangkan hak asasi mereka untuk mendapatkan kemerdekaan tetap berkobar.
Diceritakan, ada seorang ibu di kamp pengungsian yang dengan bangga mengutus seluruh putranya untuk begabung dengan para pejuang. Ada juga seorang dokter, yang dengan bangga membantu para korban hingga ikut menjadi korban keganasan tentara Israel. Terdapat pula seorang anak, yang meminjam senapan ayahnya untuk ikut berjuang bersama para pejuang lainnya.
Sababul Wurud :
Diriwayatkan di dalam “Muslim” dari Abu Hasan bahwa ia telah bertanya kepada Abu HUrairah: “Dua Putraku telah meninggal dunia, kata-kata apa yang engkau terima dari Rasulullah yang bisa menghibur hati kami?” Jawabnya: “Ya, beliau bersabda,
“Anak-anak kecilmu –pada riwayat yagn lain- anak-anak kecil mereka – (menjadi) kunang-kunang di dalam surga, seorang diantara mereka menemui ayahnya, memegangi bajunya tidak berhenti sampai Allah memasukkan dia dan ayahnya ke dalam surga.” Perawi: Imam Ahmad, Bukhari di dalam Al Adabul MUfrad, Imam Muslim di dalah Shahihnya dari Abu Hurairah.
"Barangsiapa diamanati Allah seorang putri, bila mati tidak ditangisi, dan bila hidup di didik secara baik, maka dia dapat jaminan surga"
(HR. Abu Dawud, Hakim dari Ibnu Abbas)
Anak-anak kecil yang meninggal karena menjadi korban pembantaian tentara zionist Israel, wajah nya terlihat seperti terbuai dalam tidur dengan mimpi-mimpi indah dan damainya , saat mereka kembali menghadap ke pangkuan sang penciptanya ...
Tidak ada gurat wajah kepedihan lagi, yang sebelumnya terlihat ketika mereka masih hidup di bawah bayang-bayang penindasan zionist ...
Sepertinya tak ada satupun bangsa di dunia yang lebih sering melihat peperangan daripada Palestina. Betapa tidak, sejak abad pertengahan hingga saat ini tanah para mujahid tidak pernah sepi dari peperangan.
Ghassan Kanafani menulis buku berjudul Palestines Children (Kisah Perjuangan Hidup Anak-Anak Palestina) dengan cara sangat respresentatif untuk menggambarkan situasi peperangan. Berbekal pergumulan hidup, saat menjadi guru di beberapa kamp pengungsian selama perang Israel-Palestina berkecamuk, Kafani mencoba menceritakan kepiluan, duka, miris, dan besarnya perjuangan hidup anak-anak Palestina.
Berbagai kisah yang disuguhkan dalam buku setebal 299 halaman ini sungguh luar biasa. Kecamuk perang Israel-Palestina telah membuat bumi Palestina luluh lantak. Berbagai kota menjadi lumpuh, banyak anak menjadi yatim dan perempuan menjadi janda. Tetapi, semua itu tidak membuat para bocah Palestina menjadi patah semangat.
Dengan bernas dan lincah, Kanafani menceritakan, meski di tengah ancaman perang yang berkecamuk dan dentuman bom yang menakutkan, semangat anak-anak Palestina untuk memperjuangkan hak asasi mereka untuk mendapatkan kemerdekaan tetap berkobar.
Diceritakan, ada seorang ibu di kamp pengungsian yang dengan bangga mengutus seluruh putranya untuk begabung dengan para pejuang. Ada juga seorang dokter, yang dengan bangga membantu para korban hingga ikut menjadi korban keganasan tentara Israel. Terdapat pula seorang anak, yang meminjam senapan ayahnya untuk ikut berjuang bersama para pejuang lainnya.
Israel mungkin bisa membunuhi masyarakat Palestina. Zionis mungkin bisa membumihanguskan tanah para mujahid. Tetapi, sampai kapanpun, Israel tidak akan pernah bisa menyurutkan cita-cita kemerdekaan rakyat Palestina. Semboyan itulah yang mengalir dalam darah anak-anak Palestina ingin diungkapkan Kanafani dalam buku ini.
Di sisi lain, seakan sudah menjadi cerita keseharian bagi kita, bagaimana Israel kerap membombardir Palestina dengan nyaris tanpa balas (setimpal). Pemberitaan tentang duka bangsa Palestina begitu massif diberitakan di berbagai media massa cetak maupun elektronik.
Namun sayang, semua terkesan sia-sia dan terkesan hanya menjadi tontonan belaka yang sama sekali tidak menggugah rasa kemanusian kita. Betapa tidak, bahkan organisasi perdamaian internasional seperti PBB pun tidak tergerak melihat fenomena penyembelihan hak asasi manusia di Palestina.
Melihat hal itu, agaknya menjadi sangat penting bagi kita untuk membaca secara mendalam novel Kanafani ini.
Cerita-cerita Kafani dalam novel ini sangat meyentuh perasaan, menggugah serta mengharukan hati para pembacanya. Setidaknya dengan membaca novel ini, diharapkan empati masyarakat dunia terhadap derita bangsa Palestina akan semakin berkobar dan membantu proses perdamaian di bumi Palestina. Amin.





0 komentar
Posting Komentar